|
Welcome to Koin Emas Perak
|
Petani Tua Dan Pohon Durian-nya… |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 08 February 2012 03:23 |
|
Seorang petani tua dengan susah payah mencangkuli tanah di halaman rumahnya untuk membuat lubang. Orang-orang yang lewat, sebagian besar hanya untuk basa-basi, tetapi ada yang memang serius bertanya : “lagi membuat apa pak ?”. Si petani menjawab : “Ini, lagi pingin menanam durian !”. Si penanya menjadi penasaran, bertanya lagi : “Durian kan perlu waktu lama untuk berbuah ?” , petani tua tersebut maklum dengan pertanyaan ini - dalam benaknya dia menebak si penanya pasti mengira bahwa dia menanam durian ini untuk dirinya sendiri - dengan usia yang dimiliki si petani, dia sadar bawa kecil kemungkinannya dia bisa menikmati buah durian yang dia tanam tersebut.
Lantas dia menjawab “begini, sampai setua ini – aku menggemari buah durian, tetapi semua durian yang aku makan selama ini adalah hasil tanaman orang lain. Maka kini giliranku untuk menanam durian, agar orang lain nantinya bisa memakan durian hasil dari tanamanku ini !”.
Petani tua tersebut adalah representasi dari kita semua. Banyak sekali kenikmatan dan kemudahan hidup yang kita nikmati, tanpa kita pernah sadari siapa-siapa yang dijadikan oleh Sang Pencipta untuk mengantarkan kemudahan dan kenikmatan hidup itu sampai ke kita ?.
Siapa yang menanam padi yang kemudian menjadi nasi yang kita makan ?, siapa yang mengambil air bersih, memurnikannya dan membotolkannya untuk kita minum ?. Siapa yang membuat roda itu bulat, yang dengannya kita bisa bepergian cepat kemana saja tanpa susah payah ?. dlsb.dlsb.
Seperti petani tua tersebut, selama ini kita menikmati ‘durian’ hasil tanaman orang lain, lantas kapan kita menanam ‘durian’ untuk dinikmati orang lain ?.
Itulah esensinya seorang entrepreneur. Dari waktu ke waktu dia berpikir keras untuk menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan pasar. Dia mencari solusi atas masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Dia ‘mencangkul dengan susah payah’ untuk mempersiapkan ‘tanaman’ dari produk atau solusi yang digagasnya. Dia menanggung risiko bahwa tidak semua ‘tanaman’ yang ditanamnya dengan susah payah tersebut akhirnya bener-bener hidup dan menghasilkan buah yang diharapkannya.
Karena sedikitnya orang yang ‘menanam’ di negeri yang berpenduduk sekitar 240 juta ini, maka kita menjadi pasar bagi penduduk di negeri lain yang rajin ‘menanam’-nya. Kita menjadinet importer untuk sejumlah komoditi pangan sehari-hari kita seperti gula, susu, daging, gandum dan bahkan juga kadang beras dan garam !.
Juga untuk kebutuhan sekunder atau bahkan tersier seperti alat-alat telekomunikasi, transportasi, entertainment dlsb. kita juga menjadi pasar yang empuk bagi para ‘penanam’ dari negeri-negeri lain.
Maka seharusnya kita seperti petani tua tersebut diatas, selama ini kita sudah terlalu banyak ‘makan durian’ tetapi bukan dari hasil jerih payah kita menanam – ‘durian’ hasil tanaman orang lain yang kita makan.
Kini waktunya kita menanam ‘durian-durian’ tersebut untuk kita makan sendiri ataupun agar orang lain nantinya bisa makan ‘durian-durian’ kita. ‘Durian-durian’ yang menjadi peluang kita untuk ‘menanam’-nya ini dapat berupa :
· Pendidikan yang bagus untuk anak cucu kita agar nantinya umat ini menjadi umat yang unggul, yang memberi manfaat untuk orang lain dan bukan menjadi beban bagi orang lain…
· Menanam betulan untuk produk-produk pertanian dan peternakan unggul, agar umat ini dapat mandiri dalam hal kebutuhan pokoknya yaitu pangan…
· Mengembangkan dan memproduksi produk-produk yang ramah lingkungan agar generasi yang akan datang tetap dapat menghirup udara bersih dan memperoleh air yang tetap layak minum…
· Mengimplementasikan system hukum yang adil agar perbuatan yang benar yang terlindungi, bukan yang membayar yang terlindungi…
· Mengembangkan temuan-temuan teknologi, agar hidup umat menjadi lebih berkwalitas – dan bukan menjadi sasaran eksploitasi umat lain yang menemukan dan mengembangkan teknologi lebih unggul…
· Dlsb.dlsb.
Dibandingkan umat lain yang ‘menanam’ hanya untuk tujuan komersial, sesungguhnya kita mestinya lebih rajin menanam dalam arti yang sesungguhnya – karena kita tetap diperintahkan menanam ketika proses kiamat telah mulai – artinya menanam ini pekerjaan yang valid sampai hari kiamat.
Dalam arti kiasan, ‘menanam’ untuk memenuhi kebutuhan saudara-saudara kita yang lain – kebutuhan apa saja yang baik , juga sangat didorong untuk dilakukan oleh umat ini. Dalam sahih Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak di dzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya”.
Saudara-saudara muslim kita sekarang banyak yang lagi terdzalimi dalam bentuk harus memenuhi kebutuhannya dengan mahal dan bahkan sebagiannya tidak terjangkau, sebagian yang lain di-‘serahkan’- ke musuh dalam arti harfiah dan lebih banyak lagi dalam arti kiasan, maka mengapa tidak kita mulai mau dengan susah payah ‘mencangkul’ untuk menanam ‘durian’ dalam berbagai bentuknya yang dibutuhkan oleh saudara-saudara kita ?. Dengan ‘menanam’ tersebutlah insyaAllah kita juga bisa berharap pada janji Allah, bahwa Allah akan memenuhi kebutuhan kita !. Amin.
|
|
|
77 Habits : More Then Just Highly Effective People…77 Habits : More Then Just Highly Effective People… |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 08 February 2012 03:22 |
|
Lebih dari dua dasawarsa lalu Steven R. Covey meluncurkan bukunya yang berjudul The Seven Habits of Highly Effective People (Free Press, 1989). Buku ini amat sangat laris, di dunia terjual lebih dari 15 juta buku dan diterjemahkan ke dalam 23 bahasa. Karena prestasinya ini majalah Time memasukkan buku tersebut menjadi salah satu dari 25 buku manajemen paling berpengaruh di dunia. Lima belas tahun sejak buku tersebut penulisnya menyempurnakannya dengan The 8th Habits (Free Press , 2004).
Buku ini bukan hanya sebatas buku yang dibaca, bahkan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan 7 habits (yang kemudian menjadi 8 habits) juga laris manis diikuti oleh berbagai kalangan di seluruh dunia. Buku dan pelatihan tersebut juga popular di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Malaysia dan Indonesia.
Saya tidak mempermasalahkan buku tersebut maupun popularitasnya, saya hanya ingin menjadikannya sebagi pembanding bahwa ada kehausan di masyarakat dunia untuk meningkatkan kwalitas hidupnya. Kehausan semacam ini yang kemudian di respon oleh penulis seperti Steven R. Covey melalui buku-buku dan pelatihan-nya tersebut.
Bagi kita umat Islam sebenarnya kita tidak perlu jauh-jauh mencari untuk perbaikan diri tersebut. Contoh sempurnanya sudah ada, dan jabaran detilnya-pun sudah ditulis oleh para ulama salaf. Dengan mengikuti petunjuk-petunjuk dan contoh-contoh tersebut – insyaallah kita sudah akan menjadi generasi unggulan yang melebihi highly effective people yang dicoba untuk dihasilkan oleh Steven R. Covey tersebut.
Untuk standar generasi unggulan itu seperti apa misalnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi kita standarnya : “Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” (Hadits Bukhari & Muslim).
Kemudian bagaimana menghasilkan generasi seperti ini ?, jawabannya juga sudah di formulasikan oleh ulama terdahulu seperti yang diungkapkan oleh Imam Malik Rahimahullah : “Setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu (salaf), dan setiap kejelekan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian (kholaf)" dan“Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali kembali berdasarkan perbaikan yang dilakukan oleh generasi pertama”.
Lantas karakter seperti apa yang dimiliki para generasi awal tersebut sehingga mereka unggul dibandingkan kita yang hidup di jaman ini ?. Yang jelas adalah karakter keimanannya. Maka apabila umat ini ingin mencapai keunggulan mendekati generasi-generasi awal tersebut, penguatan iman-lah jawabannya.
Untuk iman ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam Shahih Muslim dan Shahih Bukhari dengan narasi yang berbeda meng-indikasikan bahwa “Iman itu ada 70 lebih cabang dan malu adalah termasuk iman”. Ulama hadits dari generasi awal – Imam Al-baihaqi, kemudian menjabarkannya dalam 77 aplikasi iman.
Maka itulah salah satu sumber-sumber autentik yang sudah seharusnya menjadi pilihan dalam pembinaan diri generasi ini mulai dari anak-anak, remaja sampai kita orang tua. Bila kita dididik dengan kekuatan iman yang mendekati generasi terbaik di jaman Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau, maka insyaallah kwalitas generasi ini juga akan bisa mendekati kwalitas generasi awal tersebut.
7 habits (atau 8 habits) yang menghebohkan dunia tersebut diatas misalnya, itu hanya sebagian kecil dan dengan mudah dapat ditemukan kesetaraan maksudnya di antara 77 cabang iman yang diuraikan oleh Imam- Al-Baihaqi.
Habit 1 Proactive ; otomatis orang akan proaktif bekerja/beramal bila dia meninggalkan perbuatan yang sia-sia – yaitu salah satu cabang dari 77 Iman.
Habit 2 begin With End ; umat ini memiliki tujuan hidup yang jauh lebih mulia dan lebih panjang kedepan, tidak terbatas pada kehiduan dunia – tetapi sampai akhirat – iman pada hari akhir jawabannya.
Habit 3 First Thing First ; mementingkan yang utama, ini ada di banyak cabang iman antara lain termasuk meninggalkan perbuatan sia-sia di no 1.
Habit 4 Win-Win ; ini juga tercover di sejumlah cabang iman seperti menjaga lisan, menutupi aib orang lain, menjaga harta orang lain, amanah dlsb.
Habit 5 : Understanding then to be understood ; ini tercover di ahlak mulia dan beberapa cabang iman lainnya.
Habit 6 : Synergize ; ini tercover dalam tolong menolong dalam kebajikan dan takwa dlsb.
Habit 7 : Sharpen The Save ; dalam hidup kadang kita perlu mengisi ‘baterei’ – agar tidak jenuh, tidak suntug atau mentog. Inipun ada di sebagian cabang-cabang iman yang banyak dilantunkan di pesantren-pesantren jawa ‘Tombo Ati Iku Limo’…baca Al-Qur’an, sholat malam, puasa, bergaul dengan orang shaleh dan banyak mengingat Allah (berdzikir).
Bahkan ketika Steven R. Covey menyempurnakan dengan habit yang ke 8 from the effectiveness to greatness, untuk kita Allah sendiri yang menjanjikan derajat paling tinggi bila kita bener-bener beriman, artinya memahami, meyakini dan mengamalkan 77 cabang iman tersebut sehingga sampai menjadi kebiasaan kita – yang di barat disebut habits itu.
“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang beriman” (QS 3 : 139).
Jadi jangan mudah nggumun dengan sumber-sumber pemberdayaan diri yang berasal dari luar Islam, kita memiliki sumber yang jauh lebih sempurna dan agung – asal kita mau menggalinya, memahaminya, meyakininya dan mengamalkannya.
Memang harus kita akui bahwa karya-karya agung ulama kita dari generasi awal seperti karya Imam Al-Baihaqi tersebut diatas harus diterjemahkan ke bahasa yang mudah untuk dipahami umat jaman ini- sesuai dengan problema hidup dan perkembangan jaman dimana kita berada – agar mudah dipahami, diyakini, diamalkan dan dibiasakan pada diri kita dan bahkan juga diajarkan ke orang lain.
Saat ini team kami di Yayasan Al-fatih Pilar Peradaban sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk pembelajaran Iman tersebut untuk tiga tingkatan yaitu anak-anak, remaja dan dewasa. Target-nya bukan hanya untuk dipahami tetapi harus sampai bisa mendarah daging menjadi kebiasaan dan sampai membentuk karakter keimanan kita.
Insyaallah nanti umat bisa menghadiri majlis-majlis di masjid-masjid sampai workshop-workshop di perkantoran untuk proses pembelajaran dan internalisasi iman ini. Kalau orang rela membayar mahal untuk meng-upgrade diri atau perusahaan meng-upgradekaryawannya, mengapa tidak untuk yang lebih murah atau bahkan gratis untuk sesuatu yang dampaknya akan jauh lebih efektif.
Itulah program Quantum (leap) Iman yang insyaAllah bisa membawa lompatan besar pada kwalitas generasi ini dan sesudahnya. Lompatan kekuatan fisik kita siapkandengan project Alfaafa , lompatan secara ke-Imanan kita siapkan dengan Quantum Iman.
Bila umat lain yang konon sudah cukup efektif dengan 7 atau 8 habit-nya; kita punya hampir sepuluh kalinya. Maka bukan kebetulan bila Allah juga menjanjikan kekuatan orang beriman itu sesungguhnya adalah 10 kali dari kekuatan orang yang tidak beriman.
“… Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu …” (QS 8 : 65).
Maka jangan puas dengan 7 atau 8 habits; kita punya 77 habits yang siap untuk dipelajari, diyakini, di amalkan/dibiasakan dan diajarkan…. InsyaAllah !.
|
|
BeyBus Challenge : Who Want To Be The Boss…?BeyBus Challenge : Who Want To Be The Boss…? |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 08 February 2012 03:12 |
|
Sekian tahun mengadakan pelatihan kewirausahaan, harus saya akui tidak mudah untuk men-transformasi-kan orang-orang yang biasa bekerja di comfort zone-nya di perusahaan-perusahaan besar atau instansi untuk kemudian terjun ke lapangan memulai segalanya dari nol. Dari diskusi saya dengan mereka-mereka ini, saya simpulkan ada dua yang mengemuka jadi hurdle (rintangan) utama yaitu ketakutan menghadapi risiko dan kendala modal. Sekarang saya akan mencoba pendekatan lain, bagaimana kalau risiko itu di share dan modal saya yang akan mencarikannya – apakah Anda masih takut untuk terjun ?.
Bentuk sharing resiko antara Anda dan saya adalah Anda menyediakan waktu dan komitmen penuh, karena Anda akan menjadi boss dari usaha yang akan kita mulai bersama. Anda sebagai mudharib, saya mewakili shahibul mal-nya. Bila usaha berhasil, hasil kita bagi dengan persentase yang disepakati antara Anda dan team Anda dengan saya dan jaringan kelompok penyedia modalnya. Risiko Anda kalau gagal adalah kehilangan waktu, risiko saya kalau gagal saya kehilangan modalnya.
Untuk mengurangi resiko ini, usaha-usaha yang saya tawarkan adalah usaha-usaha yang bisa bersinergi dengan kelompok usaha yang kini sudah bergabung dalam BeyBus, dan usaha-usaha yang sudah kita kaji peluangnya. Saya atau team saya akan memberikan pendampingan, tetapi Anda dan team Anda yang sepenuhnya melaksanakannya.
Berikut adalah tiga usaha yang siap saya tawarkan ke Anda yang memiliki passion & patientuntuk mulai usaha dengan risiko yang sudah di minimize dan Anda bisa bener-bener mulai tanpa modal sendiri !. Tabungan Anda dapat Anda pakai untuk kebutuhan Anda dan keluarga sebelum usaha ini membuahkan hasil.
1). Café Alfaafa @Bazaar Madinah
Yang saya sediakan adalah : tempat usaha di Bazaar Madinah, menu-menu yang sudah disiapkan oleh chef yang sudah saya hire khusus untuk ini meliputi sate kambing, gule balung, sop kambing, alfaafa juice , alfaafa smoothies, alfaafa pudding, Alfaafa vegetarian burger dlsb. Saya juga akan menyediakan peralatan yang dibutuhkan dan modal kerja secukupnya.
Yang saya butuhkan dari Anda adalah : komitmen, passion & patient Anda untuk terjun di bisnis kuliner – tidak bisa disambi. Anda juga harus menyusun team yang bisa kerjasama dengan Anda termasuk tenaga juru masak dan pramusaji-nya. Pelatihan terhadap juru masak dan pramusaji akan diberikan oleh chef yang saya sediakan. Anda tidak bergaji karena akan berbagi hasil secara penuh dengan saya, tetapi team Anda bisa memilih untuk digaji, bagi hasil atau kombinasi keduanya.
Tugas Anda menyiapkan Café Alfaafa ini dari A sampai Z, mulai dari memikirkan efisiensi tenaga, menu unggulan , pemasaran, operasi, Quaity Control dlsb.dlsb. Latar belakang dibidang kuliner akan membantu tetapi bukan suatu keharusan.
2) Warung Alfaafa di Tapos – Depok
Mirip dengan Café Alfaafa tetapi dengan skala yang lebih kecil, pembagian tugas dan kontribusinya juga sama hanya skala saja yang berbeda.
Lokasi yang saya sediakan adalah di Km 1 , jalan raya Cimanggis – Cibinong (1 km dari pintu tol Cimanggis).
3) Woodball Club House & Restaurant @Jonggol Farm
Yang saya sediakan : lapangan woodball permanent pertama di jabodetabek beserta club house-nya yang unique dari pohon kelapa, berbagai menu restaurant dengan bahan baku dari Jonggol Farm meliputi kambing, susu kambing , alfaafa, jamur dlsb. Menu-menu pilihan dari bahan-bahan ini sudah di kembangkan oleh chef kita, saya juga menyediakan peralatan dan modal kerja secukupnya.
Yang saya butuhkan dari Anda : komitment, passion & patient Anda untuk exercise sesuatu yang sama sekali baru – tidak bisa disambi. Anda juga harus menyusun team yang diperlukan untuk ini. Andapun tidak bergaji karena akan berbagi hasil secara penuh dengan saya, tetapi team Anda bisa memilih untuk digaji, bagi hasil atau kombinasi keduanya.
Tugas Anda : menyiapkan operasi dan launching woodball club house & restaurant ini, mempromosikannya sebagai family sport, motivational sport atau menjadi bagian/synergy dengan para penyelenggara training motivasi, outbound dan sejenisnya. Latar belakang dievent organizer akan membantu tetapi tidak menjadi keharusan.
Apa yang diperlukan bila Anda tertarik ?.
Silahkan menulis satu atau dua halaman visi Anda tentang salah satu dari tiga prospek usaha tersebut diatas, di sertai profile (CV) dari team Anda dan di kirim via email ke
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
.
Sejumlah kecil team yang memenuhi syarat akan saya undang untuk brainstorming sekaligus mengunjungi lokasi. Team yang memiliki kesamaan/kemiripan visi, commitment, passion & patient dengan kami yang akan kami pilih sebagai mitra dan sebagai our business leader/suntuk unit-unit business di atas.
Maka bila Anda ingin menjadi Boss bagi diri Anda sendiri, insyaAllah inilah kesempatan emas itu…! saya tunggu.
|
|
|
Bagaikan Setetes Embun Di Daun Talas… |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 08 February 2012 03:20 |
|
Bagi kita yang hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, kita tidak pernah bisa lagi menikmati kesejukan pagi dengan embun-embunnya. Beruntung saya pagi ini berada jauh sekali dari Jakarta, sehingga saya bisa lebih mudah memahami betapa ada dunia lain yang dahulu pernah ada – yang dahulu merupakan bagian dari kehidupan pagi hari kita. Salah satu dari keindahan pagi itu adalah apabila kita bisa menyaksikan embun-embun pagi yang menempel di dedaunan, dan lebih indah lagi untuk embun yang tidak bisa menempel – yang kemudian bahkan menjadi peribahasa yang banyak kita kenal sejak kecil ‘Bagaikan Setetes Embun Di Daun Talas…’.
Peribahasa tersebut adalah untuk sesuatu yang mudah berubah, indah tetapi tidak bertahan lama. Peribahasa ini bisa digunakan untuk apa saja, bisa untuk suatu hubungan, bisa untuk pekerjaan, bisa untuk suatu ide atau pendirian dan bahkan bisa pula untuk hidup itu sendiri.
Dahulu sewaktu saya bekerja di perusahaan orang lain, hanya beberapa tahun saja saya merasakan nyaman sebagai karyawan. Selebihnya sebagai direksi, tidak lagi ada kenyamanan itu karena direksi adalah semacam ‘karyawan kontrak’ yang diangkat dari satu periode ke periode lainnya. Setiap pergantian periode inilah perasaan ‘ Bagaikan Setetes Embun Di Daun Talas’ itu muncul kembali.
Bayangkan suasana kejiwaan di waktu-waktu tersebut, orang lain melihatnya indah – berada di puncak karir dari industry yang perkasa – tetapi seperti embun tadi pula, sayanya sendiri merasa sangat tidak nyaman. Bayangkan pula bila Anda di posisi saya pada waktu-waktu tersebut, lagi menjadi embun di atas daun talas, angin bertiup sedikit saja embun ini bergulir kesana kemari, kadang bisa bertahan – tetapi tentu tidak selamanya.
Apa yang terjadi pada hari ‘H’ ketika embun tersebut tidak lagi bisa bertahan diatas daun talas ?. Ketika daun bergoyang tertiup angin, si embun sedikit demi sedikit menggelinding ke ujung daun. Di ujung daun dia melihat kebawah, waktunya dia jatuh – dia siap ber transformasi, tidak lagi menjadi embun tetapi menjadi percikan air yang tidak terhitung jumlahnya.
Orang tidak lagi melihat keindahannya sebagai embun, lantas menjadi apa embun tersebut ketika jatuh ke tanah ?. Tergantung dari tanah tempat dia jatuh, bila dia jatuh pada tanah yang subur – maka embun yang telah menjadi percikan air ini akan ikut menambah kesuburan lahan dan ikut menumbuhkan tanaman-tanaman di atasnya. Sebaliknya bila dia jatuh ke tanah yang gersang, dia akan habis tertelan tanah.
Hidup inipun seperti embun di atas daun talas tadi, meskipun indah – tetapi jelas tidak lama sama sekali. Cepat atau lambat kita akan bergulir sampai ke ujung daun, kemudian bila dilihat dalam gerakan slow motion – kita jatuh dan berubah bentuk – menjadi percikan air yang ditelan tanah.
Menjadi apa kita di dalam tanah sana ?, tergantung pada amal perbuatan kita. Kondisi hidup abadi kita di alam sana, sangat tergantung dengan bekal yang kita persiapkan pada waktu yang sangat pendek – yaitu ketika menjadi embun diatas daun talas tadi.
Maka ketika kita masih menjadi embun, tergulir ke sana kemari dan tertiup angin – tidak menjadi masalah bila itu semua kita lakukan dalam rangka menyiapkan diri untuk setiap saat siap jatuh ke tanah dan menjalani hidup yang sesungguhnya, hidup yang abadi di alam sana. InsyaAllah.
|
|
Karena Aku Seorang Pengusaha… |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 26 January 2012 08:33 |
|
ni puisi seorang pengusaha atau entrepreneur yang tidak mau disebut namanya, tidak sebagus puisi yang ditulis para seniman – tetapi menurut saya sendiri mewakili jati diri seorang pengusaha. Mirip lagu ‘Aku Ini Si Gembala Sapi’ yang kita hafal sewaktu di sekolah dasar, gara-gara lagu ini dahulu – anak-anak kecil di desa bangga menjadi penggembala sapi. Dengan mengungkap ‘jati diri’ seorang pengusaha melalui puisi ini-pun mudah-mudahan generasi ini atau bahkan generasi yang akan datang dapat lebih termotivasi untuk menjadi seorang pengusaha - sekaligus tahu what it takes to be an entrepreneur – apa yang diperlukan untuk menjadi seorang pengusaha.
Karena Aku Seorang Pengusaha…
Ketika orang lain baru mulai bekerja, aku sudah menyelesaikan ¼ dari pekerjaanku hari itu. Tetapi ketika orang lain selesai dengan pekerjaannya, aku baru menyelesaikan ¾ dari pekerjaanku.
Aku bekerja 2 kali lebih banyak dari yang dilakukan orang lain, bukan karena ada yang menyuruh aku melakukannya. Bukan pula karena aku harus melakukannya, tetapi karena aku memang senang melakukannya.
Ketika akhir bulan tiba, orang-orang lain yang bekerja umumnya gembira menerima upah dari pekerjaannya. Akupun gembira, tetapi bukan karena menerima upah dari pekerjaanku – karena aku masih mampu membayar upah para bekerja.
Ketika segala sesuatunya tidak berjalan semestinya, orang lain bisa menyalahkan atasannya, bisa menyalahkan system, bisa menyalahkan pasar, bisa menyalahkan krisis dan bahkan bisa menyalahkan cuaca. Tidak demikian denganku, the buck stops here – nobody else to blame, semua masalah menjadi tanggung jawabku – tidak ada orang lain yang patut disalahkan.
Ketika orang lain melihat masalah di sekitar mereka, aku melihatnya peluang untuk diatasi. Ketika orang lain melihat sampah, aku melihatnya bahan baku untuk industri.
Ketika orang lain sibuk untuk menabung kelebihan uang mereka, aku juga selalu sibuk untuk mencari solusi bagaimana mendanai berbagai ide usaha. Orang lain mendapat bagi hasil yang pasti, tidak demikian dengan dana usahaku – tidak ada yang bisa memberikan jaminan yang pasti.
Di akhir pekan, di hari liburan – orang lain bisa sepenuhnya istirahat dengan melupakan segala persoalan pekerjaannya. Tidak demikian denganku, tidak ada waktu untuk berlibur dari tanggung jawab – aku harus tetap siaga dimanapun aku berada.
Ketika orang lain berlibur adalah berlibur - tidak ada yang boleh mengganggunya, kadang aku-pun ber –‘libur’ tetapi bukan untuk berlibur – aku mencari peluang dengannya.
Di akhir malam, ketika orang lain berdoa untuk mendapatkan pekerjaan, jabatan yang baik dan karir yang cemerlang nanti. Akupun berdoa untuk mampu menjaga amanah, untuk diberi dan dipertemukan dengan orang-orang yang jujur – adil – dan hati-hati agar tidak ada rasa bimbang di hati.
Orang lain akan pensiun pada waktunya, menikmati hari tua dengan dana pensiunnya atau dengan tunjangan hari tuanya. Tidak denganku, usia tidak menghalangiku untuk tetap bekerja, dana pensiun dan tunjangan hari tua-ku telah habis ketika aku membutuhkan modal usaha.
Ketika istri-istri orang lain sibuk mengelola penghasilan para suami mereka, istriku-pun sibuk – bukan untuk mengelola penghasilanku, tetapi untuk ikut berusaha dan menjaga agar orang lain tetap bisa bekerja.
Ketika anak-anak orang lain mendapatkan jatah uang saku bulanannya, anak-anakku harus bekerja untuk memperoleh uang sakunya. Bagi anak-anakku, uang saku bukan something to be given (sesuatu yang harus diberikan) kepada mereka, tetapi something to be earned (sesuatu yang harus diusahakan) oleh mereka.
Satu demi satu usaha terus aku rintis, bukan karena aku ingin terus bertambah kaya – karena memang ternyata tidak semuanya berbuah hasil. Tetapi karena aku memang senang melakukannya, untuk tetap bisa berbuat adil.
Aku tahu domainku hanya untuk berusaha dan bekerja dengan senang, masalah hasil adalah domain dan kuasa dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku hanyalah pelaku, Dia-lah Sang Penentu.
Karenanya, tidak patut aku berbangga dengan hasil usaha, tetapi syukurku yang terus aku panjatkan atas kesempatan yang telah diberikanNya kepadaku untuk tetap bisa berusaha. Karena aku seorang pengusaha, tugasku hanya berusaha…!. NN.
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 5 |
|
|
Who's Online
We have 3 guests online
|